Ketahanan
Pangan 2025 Sebaga Strategi Menuju Kemandirian dan Keberlanjutan Pangan
Nasional
Pengantar
Ketahanan pangan
menjadi isu strategis global yang semakin relevan di tahun 2025. Perubahan
iklim, pertumbuhan penduduk, dan dinamika perdagangan internasional menuntut
setiap negara untuk memperkuat sistem pangan nasionalnya. Artikel ini membahas
tantangan ketahanan pangan di Indonesia pada tahun 2025 serta strategi
kebijakan dan inovasi yang diperlukan untuk mewujudkan kemandirian pangan
berkelanjutan. Pendekatan yang diuraikan meliputi diversifikasi pangan lokal,
inovasi teknologi pertanian, pemberdayaan petani, dan partisipasi masyarakat.
1. Pendahuluan
Ketahanan pangan
merupakan kemampuan suatu negara dalam menjamin ketersediaan, akses, dan
konsumsi pangan yang cukup, bergizi, aman, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Menurut FAO (2023), konsep ketahanan pangan mencakup empat pilar utama:
ketersediaan (availability), akses (access), pemanfaatan (utilization), dan
stabilitas (stability).
Dalam konteks
Indonesia, tantangan ketahanan pangan semakin kompleks di tahun 2025.
Pertumbuhan penduduk yang diperkirakan mencapai lebih dari 280 juta jiwa
(BPS, 2024), ditambah dengan perubahan iklim global, menyebabkan tekanan
terhadap sistem produksi dan distribusi pangan. Selain itu, pandemi COVID-19
meninggalkan dampak struktural pada rantai pasok yang masih terasa hingga kini.
2. Tantangan Ketahanan Pangan di Tahun 2025
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi ketahanan
pangan Indonesia di tahun 2025 antara lain:
- Perubahan Iklim dan Penurunan
Produktivitas Lahan
Fenomena cuaca ekstrem seperti El NiƱo menyebabkan penurunan produksi padi di beberapa wilayah sentra produksi. Data dari Kementerian Pertanian (2024) menunjukkan bahwa produktivitas padi turun rata-rata 3–5% di wilayah Jawa dan Sumatra akibat kekeringan. - Alih
Fungsi Lahan Pertanian
Urbanisasi yang cepat menyebabkan konversi lahan sawah menjadi kawasan industri dan perumahan. Laporan Bappenas (2023) memperkirakan sekitar 100.000 hektare lahan pertanian produktif hilang setiap tahun. - Ketergantungan
terhadap Impor Pangan
Komoditas seperti gandum, kedelai, dan daging sapi masih diimpor dalam jumlah besar. Ketergantungan ini meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga internasional dan nilai tukar. - Ketimpangan
Distribusi dan Akses Pangan
Wilayah timur Indonesia masih menghadapi kesulitan akses logistik dan infrastruktur, yang berdampak pada harga pangan dan ketersediaan bahan pokok.
3. Strategi dan Pendekatan untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan
strategi terpadu dan berbasis ilmu pengetahuan:
a. Diversifikasi Pangan Lokal
Diversifikasi pangan merupakan langkah strategis
dalam mengurangi ketergantungan terhadap beras. Sumber karbohidrat lokal
seperti sagu, singkong, ubi jalar, dan sorgum memiliki potensi besar untuk
dikembangkan (Puslitbangtan, 2024).
b. Inovasi Teknologi Pertanian
Penerapan smart farming berbasis Internet of
Things (IoT), sistem irigasi cerdas, dan penggunaan varietas unggul tahan iklim
dapat meningkatkan efisiensi produksi. Menurut Kementan (2025),
penggunaan sensor tanah dan drone pemantau tanaman dapat meningkatkan hasil
hingga 20%.
c. Pemberdayaan Petani dan Kelembagaan
Ekonomi Lokal
Penguatan kelembagaan petani, koperasi, dan UMKM
pangan perlu diperluas agar rantai nilai pangan lebih inklusif. Dukungan akses
permodalan dan digitalisasi pemasaran juga menjadi faktor kunci keberhasilan.
d. Kebijakan Berbasis Kedaulatan Pangan
Kedaulatan pangan menekankan hak negara untuk
menentukan sistem pangan sendiri. Kebijakan seperti perlindungan lahan
pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) dan insentif bagi produksi dalam negeri
perlu diperkuat (UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan).
4. Peran Masyarakat dan Generasi Muda
Masyarakat memiliki peran penting dalam memperkuat
ketahanan pangan. Edukasi mengenai pola konsumsi berkelanjutan, pengurangan
limbah makanan, dan dukungan terhadap produk lokal menjadi bagian dari solusi.
Generasi muda, melalui wirausaha agritech dan inovasi digital, berpotensi besar
menciptakan ekosistem pangan modern yang adaptif terhadap perubahan global
(Nasution & Putri, 2024).
5. Kesimpulan
Ketahanan pangan 2025 merupakan tantangan
multidimensional yang memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku
usaha, dan masyarakat. Pendekatan berbasis inovasi, diversifikasi pangan lokal,
serta kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam adalah kunci untuk
mewujudkan sistem pangan nasional yang tangguh dan berkelanjutan.
Dengan memperkuat fondasi dari lahan hingga meja
makan, Indonesia dapat mewujudkan kemandirian pangan yang tidak hanya menjamin
ketersediaan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara
menyeluruh.
Daftar Pustaka
- Bappenas.
(2023). Laporan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia.
Jakarta: Bappenas.
- Badan
Pusat Statistik (BPS). (2024). Proyeksi Penduduk Indonesia 2025.
Jakarta: BPS.
- FAO.
(2023). The State of Food Security and Nutrition in the World.
Rome: Food and Agriculture Organization.
- Kementerian
Pertanian. (2024). Laporan Tahunan Ketahanan Pangan Nasional.
Jakarta: Kementan.
- Nasution,
R., & Putri, A. (2024). Inovasi Generasi Muda dalam Ketahanan
Pangan Digital di Indonesia. Jurnal Pangan dan Pembangunan, 12(2),
45–59.
- Pusat
Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Puslitbangtan). (2024). Potensi
Pangan Lokal sebagai Alternatif Ketahanan Pangan Nasional. Bogor:
Kementan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar