Senin, 13 Oktober 2025

Kapuas Hulu

 

Kapuas Hulu


Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu wilayah tingkat dua yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini berada di Putussibau, yang bisa diakses melalui transportasi sungai Kapuas dengan jarak 846 km, jalur darat sejauh 814 km, dan penerbangan menggunakan pesawat kecil dari Pontianak melalui Bandar Udara Pangsuma. Wilayahnya mencakup luas 29. 842,03 km², yang merupakan 20% dari keseluruhan luas Kalimantan Barat, dengan jumlah penduduk mencapai 253. 740 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2022.

Secara astronomi, Kabupaten Kapuas Hulu terletak di antara 0,50° Lintang Utara hingga 1,40° Lintang Selatan serta 111,40° Bujur Timur sampai 114,10° Bujur Timur. Umumnya, Kabupaten Kapuas Hulu membentang dari barat ke timur dengan jarak terpanjang sekitar 240 km dan lebar dari utara ke selatan sekitar 126,70 km. Kabupaten ini juga merupakan kabupaten paling timur di Kalimantan Barat. Jarak dari ibu kota provinsi, Pontianak, adalah sekitar 657 km melalui jalan darat, 842 km melalui aliran sungai Kapuas, dan sekitar 1,10 jam jika menggunakan jalur udara. Kabupaten Kapuas Hulu memiliki luas wilayah sebanyak 29. 842 km².

Kawasan ini terdiri dari 23 kecamatan, 4 kelurahan, dan 278 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 237. 599 orang, dengan luas lahan 29. 842,00 km² dan kepadatan penduduk sekitar 8 jiwa/km².

Mayoritas masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu berasal dari suku Dayak dan Melayu. Suku Dayak sendiri terbagi dalam beberapa sub-suku, termasuk Dayak Iban, Dayak Kayan Mendalam, Dayak Embaloh, Dayak Taman, dan Dayak Kantuk. Selain itu, juga terdapat keberadaan suku lain seperti Jawa, Bugis, Sunda, Batak, Tionghoa, dan suku-suku lainnya di Kapuas Hulu. Budaya Dayak dan Melayu memiliki pengaruh yang kuat di daerah ini, sehingga tradisi mereka sangat memengaruhi praktik sosial di Kapuas Hulu.

Budaya Melayu yang ada di Kapuas Hulu meliputi tari Jepin, Syair, Pantun, Qasidah, dan Hadrah, yang sering kali ditampilkan dalam acara adat dan pernikahan. Sedangkan budaya suku Dayak yang terdapat di sini mencakup Ngajat serta Sandauari dan Gawai Kenalang dari Dayak Iban, budaya Baranangis dan Nyonjoan dari Dayak Embaloh, serta budaya Bejande, Betimang, dan Bedudu dari Dayak Kantuk. Ada pula budaya Mandung dari Dayak Taman, dan Dange’ dari Dayak Kayan Mendalam. Karena posisi wilayahnya yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki iklim hutan hujan tropis (Af) dengan pengaruh ekuatorial yang kuat, yang ditandai dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Suhu udara di kawasan ini cenderung stabil dengan rentang antara 23°–34 °C di dataran rendah dan di bawah 25 °C di dataran tinggi. Tingkat kelembapan relatif di daerah ini cukup tinggi, berkisar antara 70%–90%.

Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu menganut beragam agama dan kepercayaan, dengan mayoritas adalah pemeluk Islam. Dalam Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010, terdapat 59,50% penduduk yang beragama Islam. Sedangkan penganut agama Kristen mencapai 40,22%, dengan mayoritas adalah Katolik yang berjumlah 32,04%, dan sisanya adalah Protestan dengan persentase 8,18%. Selain itu, ada juga yang menganut agama Buddha sekitar 0,12%, Konghucu sebanyak 0,10%, dan Hindu serta kepercayaan lainnya yang masing-masing berjumlah 0,05%. Untuk fasilitas ibadah bagi setiap agama, tersedia 245 masjid, 311 musala, 294 gereja Katolik, dan 210 gereja Protestan.
Hasil hutan di area Kesatuan Pemangku Hutan Putussibau dan Semitau menjadi sumber utama bagi perekonomian Kapuas Hulu. Produk yang dihasilkan meliputi kayu bulat yang dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu meranti, rimba campuran, dan kayu hias.

Dalam sektor perikanan, Kapuas Hulu dikenal sebagai rumah bagi berbagai macam ikan hias, termasuk arwana dan ulanguli. Ikan-ikan ini hanya dapat ditemukan di Danau Sentarum. Sementara itu, di kawasan lain seperti hulu sungai Kapuas, Embaloh, Mendalam, dan Sibau, hasil perikanannya meliputi ikan jelawat, semah, toman, tengadak, belida, lais, entokan, dan baung.

Transportasi utama untuk mencapai dan meninggalkan Kabupaten Kapuas Hulu adalah melalui jalur darat dan udara. Untuk transportasi udara, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki satu bandara yang terletak di kelurahan Kedamin Hulu, kecamatan Putussibau Selatan, yaitu Bandara Pangsuma. Bandara ini berfungsi sebagai pintu masuk utama ke Kapuas Hulu. Bandara Pangsuma memiliki panjang landasan 1. 004 x 23 m dan termasuk dalam kategori bandara Kelas IV, dengan kapasitas untuk pesawat tipe DHC-6. Luas area terminal domestiknya sekitar 240 m2.






 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar