Kamis, 30 Oktober 2025

Stunting

Stunting Ancaman Tersembunyi

Yang Dapat Menghambat Masa Depan  Anak 


Tinggi badan seorang anak dapat mencerminkan kondisi kesehatan mereka. Jika seorang anak tampak lebih pendek dibandingkan dengan teman seusianya, hal itu bisa menunjukkan adanya stunting. Permasalahan ini bukan hanya terkait ukuran tubuh, karena stunting juga mempengaruhi perkembangan otak, kesehatan, serta peluang ekonomi di masa depan.

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami kegagalan pertumbuhan disebabkan oleh kekurangan nutrisi yang serius, terutama selama 1. 000 hari pertama kehidupan (dari masa kehamilan hingga usia dua tahun). Anak yang mengalami stunting umumnya:

Memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya.Lebih mungkin mengalami masalah kognitif, seperti kesulitan untuk belajar dan fokus.
Lebih rentan terhadap penyakit kronis saat dewasa.


Penyebab Stunting

Faktor penyebab stunting sangat kompleks dan saling berhubungan. Beberapa faktor utama adalah:

Gizi yang kurang memadai
Asupan protein, vitamin, dan mineral yang tidak cukup selama masa kehamilan dan pertumbuhan anak adalah penyebab utama.
Pola makan yang tidak sehat
Anak yang sering mengonsumsi makanan cepat saji atau kurang variasi dalam makanannya akan berada pada risiko lebih tinggi.
Infeksi yang berulang
Penyakit seperti diare atau infeksi saluran pernapasan bisa menghambat penyerapan nutrisi dengan baik.
Faktor lingkungan
Kondisi sanitasi yang buruk, akses terhadap air bersih yang terbatas, dan lingkungan rumah yang tidak sehat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.
Kurangnya pengetahuan orang tua
Pemahaman yang kurang mengenai gizi dan perawatan anak dapat membuat anak tidak mendapatkan nutrisi yang optimal.
Dampak Stunting

Stunting tidak hanya menjadi masalah fisik. Konsekuensinya dapat dirasakan sepanjang hidup:

Gangguan perkembangan otak: Anak yang mengalami stunting cenderung kesulitan dalam belajar, penurunan daya ingat, dan prestasi akademik yang rendah.
Masalah kesehatan jangka panjang: Ada peningkatan risiko diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung pada individu dewasa yang pernah mengalami stunting.
Keterbatasan peluang ekonomi: Anak dengan stunting biasanya memiliki produktivitas yang lebih rendah saat dewasa, yang berdampak pada kesejahteraan keluarga dan negara.

Cara Mencegah Stunting

Berita baiknya, stunting dapat dihindari jika langkah-langkah dilakukan sejak awal. Berikut ini beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

Nutrisi yang baik selama kehamilan
Ibu hamil perlu mendapatkan cukup protein, vitamin, dan mineral, termasuk suplemen jika dianggap perlu.
ASI eksklusif selama 6 bulan
Setelah itu, berikan makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan anak.
Imunisasi yang lengkap
Imunisasi dapat membantu mencegah penyakit infeksi yang bakal menghambat pertumbuhan anak.
Lingkungan yang bersih dan sehat
Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit infeksi.
Edukasi gizi bagi orang tua
Memberikan pengetahuan mengenai pola makan yang seimbang dan cara pengasuhan yang benar sangat penting.

Kesimpulan

Stunting merupakan masalah serius yang berpengaruh pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan generasi muda. Upaya pencegahan harus dimulai dari masa kehamilan dan terus berlanjut hingga anak berusia dua tahun. Dengan nutrisi yang seimbang, pola asuh yang tepat, serta lingkungan yang sehat, kita dapat menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

Mari kita berupaya melawan stunting sejak awal, karena setiap anak berhak untuk tumbuh dengan baik dan mencapai masa depan yang cerah!

Senin, 27 Oktober 2025

Partisipatory Rural Appraisal (PRA)

Partisipatory Rural Appraisal (PRA)

Metode Menggali Potensi dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


PRA adalah metode untuk mengumpulkan informasi dan melakukan analisis di masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Metode ini menekankan pentingnya keterlibatan aktif dari warga dalam menemukan kendala, merumuskan solusi, dan mengambil keputusan yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan mereka. Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan informasi untuk perencana atau peneliti, tetapi juga memperkuat kemampuan komunitas dalam mengelola sumber daya dan permasalahan mereka sendiri.

Sejarah dan Latar Belakang PRA

PRA muncul pada akhir 1980-an dan awal 1990-an sebagai reaksi terhadap metode tradisional yang lebih bersifat paksaan, di mana para perencana atau peneliti menentukan permasalahan dan solusinya tanpa melibatkan penduduk secara langsung. Pendekatan ini menekankan bahwa penduduk setempat memiliki pengetahuan yang berharga mengenai keadaan lingkungan, sosial, dan ekonomi mereka.

Metode ini pertama kali diinisiasi oleh organisasi seperti Institute of Development Studies (IDS) di Inggris dan telah diterapkan secara luas di Asia, Afrika, dan Amerika Latin sebagai bagian dari proyek pengembangan kawasan pedesaan.

Prinsip-Prinsip PRA

Beberapa prinsip dasar dari PRA adalah:

- Partisipasi aktif masyarakat
Masyarakat dianggap sebagai mitra yang terlibat dalam semua langkah proses, bukan hanya sebagai objek penelitian.

- Menghargai pengetahuan lokal
Warga desa memiliki pemahaman yang mendalam tentang keadaan ekonomi, sosial, dan lingkungannya.

- Pendekatan visual dan interaktif
Menggunakan alat seperti peta, diagram, transek, dan model tiga dimensi untuk mempermudah dalam menganalisis masalah.

- Fleksibel dan adaptif
Metode ini dirancang agar dapat disesuaikan dengan situasi, budaya, dan kebutuhan komunitas setempat.

- Fokus pada pembelajaran dan refleksi
Proses PRA mendorong terjadinya dialog antara masyarakat dan fasilitator untuk menemukan solusi yang realistis.

Metode dan Teknik PRA

Berbagai teknik diterapkan dalam PRA untuk mengumpulkan data dan mendorong partisipasi:

- Pemetaan partisipatif: Masyarakat membuat peta daerah mereka untuk menemukan sumber daya, batas wilayah, atau masalah lingkungan.

- Transek: Fasilitator dan warga berjalan bersama melalui desa untuk mengamati kondisi fisik, sosial, dan ekonomi.

- Diagram Venn: Mempermudah pemahaman mengenai hubungan antar lembaga atau kelompok dalam masyarakat.

- Timeline dan Sejarah Lokal: Mencatat peristiwa signifikan serta perubahan sosial dan ekonomi desa dari sudut pandang penduduk setempat.

- Ranking dan Scoring: Warga memberikan penilaian terhadap masalah atau kebutuhan menggunakan sistem peringkat yang sederhana.

- Focus Group Discussion (FGD): Diskusi kelompok untuk membahas masalah, kebutuhan, dan solusi yang diusulkan oleh masyarakat.

Manfaat PRA

Metode PRA menawarkan berbagai keuntungan, baik untuk masyarakat maupun perencana pembangunan:

- Pemberdayaan masyarakat
Meningkatkan kemampuan komunitas dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi.

- Data yang lebih akurat dan relevan
Informasi yang diperoleh langsung dari warga cenderung lebih valid dibanding data sekunder atau survei formal.

- Peningkatan kolaborasi
Memperkuat hubungan antara penduduk setempat, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah (NGO).

- Solusi yang lebih berkelanjutan
Karena masyarakat terlibat langsung, solusi yang tercipta lebih sesuai dengan kondisi lokal dan lebih mudah dilaksanakan.

- Pengembangan kapasitas lokal
Teknik PRA meningkatkan keterampilan analisis, komunikasi, dan perencanaan dalam komunitas.

Tantangan dalam PRA

Walaupun efektif, PRA juga menghadapi sejumlah tantangan:

- Ketergantungan pada fasilitator yang kompeten
Fasilitator perlu memahami budaya setempat dan teknik partisipatif.

- Potensi bias sosial
Suara dari kelompok tertentu dapat mendominasi pembicaraan, sementara kelompok yang kurang terwakili mungkin tidak terdengar.

- Memerlukan waktu dan sumber daya
Proses partisipatif seringkali memakan waktu lebih lama dibandingkan metode survei tradisional.

- Kesulitan dalam analisis data kompleks
Data kualitatif yang diperoleh melalui PRA memerlukan keterampilan dalam interpretasi.

Kesimpulan
Partisipatory Rural Appraisal (PRA) ialah teknik yang efektif untuk mengintegrasikan pengetahuan masyarakat lokal dengan proses pengembangan dan kajian. Dengan mendorong partisipasi masyarakat secara langsung, PRA tidak hanya menghasilkan informasi yang tepat, tetapi juga memberdayakan komunitas untuk mengelola sumber daya dan mengatasi tantangan yang mereka hadapi.

Metode ini menjadi sarana penting dalam program pembangunan kawasan pedesaan, perencanaan yang melibatkan warga, dan penelitian sosial, karena memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bersuara dan menjamin bahwa solusi yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan yang sesungguhnya di lapangan.









Jumat, 24 Oktober 2025

Temu Bisnis Kemitraan Dalam Menunjang Ketahanan Pangan

 

Temu Bisnis Kemitraan Dalam Menunjang Ketahanan Pangan
Pontianak, 22 - 24 Oktober 2025


Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Propinsi Kalimantan Barat mengadakan kegiatan fasilitasi kerjasama desa dengan pihak ketiga dengan tema  " Temu Bisnis kemitraan Dalam menunjang ketahahaan Pangan " pada tanggal 22 - 24 Oktober 2025 bertempat di Hotel Transera Pontianak.

Peserta terdiri dari unsur Dinas PMD Propinsi, Dinas PMD Kabupaten, Kepala Desa, Pengurus Bumdes, Pengurus Bumdesma dan TAPM Propinsi & Kabupaten.

Dalam kegiatan ini yang menjadi Narasumber Utama adalah Kepala Dinas PMD Propinsi Kalbar, Narasumber lain adalah para praktisi pengelola dan pengembang ekonomi.




Rabu, 22 Oktober 2025

Rakor Propinsi Kalimantan Barat 22 Oktober 2025

 




Rapat Koordinasi Propinsi TPP Kalimantan Barat dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2025 bertempat di Aula dinas PMD Propinsi Kalimantan Barat.

Rakor dihadiri oleh TAPM Propinsi dan TAPM Kabupaten se Kalimantan Barat.

Materi Rakor terdiri dari :

1. Konsolidasi dan Koordinasi

2. Review dan Evaluasi Pelaporan

3. RKTL Pendampingan

Rakor dimulai jam 8 pagi dan diakhiri pada jam 15 sore





Rakor Pengelolaan Bumdesa Kalimantan Barat Tahun 2025

 


Rakor Pengelolaan Bumdesa Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2025
Pontianak 21 Oktober 2025


Dalam Rangka Fasilitasi Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat dan Pemerintah Desa

Pada tanggal 21 Oktober 2025, telah dilaksanakan Rapat Koordinasi untuk Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) di Kalimantan Barat Tahun 2025 yang berlangsung di Aula Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Kalimantan Barat.

Peserta dalam rapat koordinasi ini terdiri dari Koordinator Provinsi, Tim Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Provinsi, Koordinator Kabupaten, serta TAPM Kabupaten yang berasal dari seluruh wilayah Kalimantan Barat.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas PMD Provinsi Kalimantan Barat, Bapak Hendra Bachtiar, ST MT, yang juga berperan sebagai narasumber utama.

Narasumber lainnya berasal dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi, Inspektorat Provinsi, serta perwakilan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kalimantan Barat.

Materi terakhir yang dibahas adalah penilaian terhadap kegiatan Ketahanan Pangan tahun 2025 yang telah dilaksanakan di 12 Kabupaten di Kalimantan Barat, yang disampaikan oleh TAPM Provinsi Kalimantan Barat.

Acara yang dimulai pada pukul 09. 00 ini selesai pada pukul 17. 00 dan ditutup oleh Koordinator Provinsi P3MD Kalimantan Barat.




Senin, 13 Oktober 2025

 








Pada tanggal 19 Agustus 2024, telah dikeluarkan Keputusan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia dengan nomor 294 tahun 2025 mengenai Petunjuk Teknis untuk pendampingan dalam masyarakat desa.

Tujuan:

1. Menyediakan pedoman dalam pelaksanaan pendampingan bagi masyarakat desa dengan bantuan tenaga pendamping yang profesional.

2. Menawarkan pedoman untuk pengelolaan tenaga pendamping yang bersifat profesional.

3. Memberikan pedoman tentang cara memanfaatkan tenaga pendamping profesional.

4. Menjelaskan rincian mengenai tugas, fungsi, dan pengaturan kerja tenaga pendamping yang profesional.


Kepmendesa 294 Tahun 2025


 





Berikut terlampir tutorial pembuatan Blog , disampaikan oleh Bidang Informasi dan Media TPP Pusat pada tanggal 9 September 2025 melalui pertemuan Daring, silakan kilik tautan berikut :

Tutorial Blog

Kapuas Hulu

 

Kapuas Hulu


Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu wilayah tingkat dua yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini berada di Putussibau, yang bisa diakses melalui transportasi sungai Kapuas dengan jarak 846 km, jalur darat sejauh 814 km, dan penerbangan menggunakan pesawat kecil dari Pontianak melalui Bandar Udara Pangsuma. Wilayahnya mencakup luas 29. 842,03 km², yang merupakan 20% dari keseluruhan luas Kalimantan Barat, dengan jumlah penduduk mencapai 253. 740 berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2022.

Secara astronomi, Kabupaten Kapuas Hulu terletak di antara 0,50° Lintang Utara hingga 1,40° Lintang Selatan serta 111,40° Bujur Timur sampai 114,10° Bujur Timur. Umumnya, Kabupaten Kapuas Hulu membentang dari barat ke timur dengan jarak terpanjang sekitar 240 km dan lebar dari utara ke selatan sekitar 126,70 km. Kabupaten ini juga merupakan kabupaten paling timur di Kalimantan Barat. Jarak dari ibu kota provinsi, Pontianak, adalah sekitar 657 km melalui jalan darat, 842 km melalui aliran sungai Kapuas, dan sekitar 1,10 jam jika menggunakan jalur udara. Kabupaten Kapuas Hulu memiliki luas wilayah sebanyak 29. 842 km².

Kawasan ini terdiri dari 23 kecamatan, 4 kelurahan, dan 278 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 237. 599 orang, dengan luas lahan 29. 842,00 km² dan kepadatan penduduk sekitar 8 jiwa/km².

Mayoritas masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu berasal dari suku Dayak dan Melayu. Suku Dayak sendiri terbagi dalam beberapa sub-suku, termasuk Dayak Iban, Dayak Kayan Mendalam, Dayak Embaloh, Dayak Taman, dan Dayak Kantuk. Selain itu, juga terdapat keberadaan suku lain seperti Jawa, Bugis, Sunda, Batak, Tionghoa, dan suku-suku lainnya di Kapuas Hulu. Budaya Dayak dan Melayu memiliki pengaruh yang kuat di daerah ini, sehingga tradisi mereka sangat memengaruhi praktik sosial di Kapuas Hulu.

Budaya Melayu yang ada di Kapuas Hulu meliputi tari Jepin, Syair, Pantun, Qasidah, dan Hadrah, yang sering kali ditampilkan dalam acara adat dan pernikahan. Sedangkan budaya suku Dayak yang terdapat di sini mencakup Ngajat serta Sandauari dan Gawai Kenalang dari Dayak Iban, budaya Baranangis dan Nyonjoan dari Dayak Embaloh, serta budaya Bejande, Betimang, dan Bedudu dari Dayak Kantuk. Ada pula budaya Mandung dari Dayak Taman, dan Dange’ dari Dayak Kayan Mendalam. Karena posisi wilayahnya yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki iklim hutan hujan tropis (Af) dengan pengaruh ekuatorial yang kuat, yang ditandai dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Suhu udara di kawasan ini cenderung stabil dengan rentang antara 23°–34 °C di dataran rendah dan di bawah 25 °C di dataran tinggi. Tingkat kelembapan relatif di daerah ini cukup tinggi, berkisar antara 70%–90%.

Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu menganut beragam agama dan kepercayaan, dengan mayoritas adalah pemeluk Islam. Dalam Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010, terdapat 59,50% penduduk yang beragama Islam. Sedangkan penganut agama Kristen mencapai 40,22%, dengan mayoritas adalah Katolik yang berjumlah 32,04%, dan sisanya adalah Protestan dengan persentase 8,18%. Selain itu, ada juga yang menganut agama Buddha sekitar 0,12%, Konghucu sebanyak 0,10%, dan Hindu serta kepercayaan lainnya yang masing-masing berjumlah 0,05%. Untuk fasilitas ibadah bagi setiap agama, tersedia 245 masjid, 311 musala, 294 gereja Katolik, dan 210 gereja Protestan.
Hasil hutan di area Kesatuan Pemangku Hutan Putussibau dan Semitau menjadi sumber utama bagi perekonomian Kapuas Hulu. Produk yang dihasilkan meliputi kayu bulat yang dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu meranti, rimba campuran, dan kayu hias.

Dalam sektor perikanan, Kapuas Hulu dikenal sebagai rumah bagi berbagai macam ikan hias, termasuk arwana dan ulanguli. Ikan-ikan ini hanya dapat ditemukan di Danau Sentarum. Sementara itu, di kawasan lain seperti hulu sungai Kapuas, Embaloh, Mendalam, dan Sibau, hasil perikanannya meliputi ikan jelawat, semah, toman, tengadak, belida, lais, entokan, dan baung.

Transportasi utama untuk mencapai dan meninggalkan Kabupaten Kapuas Hulu adalah melalui jalur darat dan udara. Untuk transportasi udara, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki satu bandara yang terletak di kelurahan Kedamin Hulu, kecamatan Putussibau Selatan, yaitu Bandara Pangsuma. Bandara ini berfungsi sebagai pintu masuk utama ke Kapuas Hulu. Bandara Pangsuma memiliki panjang landasan 1. 004 x 23 m dan termasuk dalam kategori bandara Kelas IV, dengan kapasitas untuk pesawat tipe DHC-6. Luas area terminal domestiknya sekitar 240 m2.